Senin, 22 Juni 2009

AKU IRI

Entah mengapa semakin ku dengar, semakin ku banyak tau dan aku semakin IRI.

Mungkin ini keEgoisan yang tak mendasar IRI pada sesuatu yang telah berlalu, iri dengan masa lalu.

Dulu kau bilang aku yang tak tak mempedulikan mu, ada dan tidak adanya dirimu tak akan berpengaruh apa-apa terhadap hidup ku, tapi nyatanya akulah yang tidak mempunyai kesan dalam hidup mu.

Sungguh sangat irinya hati ini mendengar cerita-cerita bahagia mu dengan orang lain, aku BENCI dengan ini.

Aku iri saat dia masa lalu mu yang “satu” bisa bisa lebih dekat dengan diri mu, Aku iri dengan “dua” masa lalu mu yang bisa berdekatan dengan mu, Aku iri dengan “tiga” masa lalu mu yang lebih bisa mengerti mu, Aku iri dengan “empat”, ”lima”, ”enam”,,,,,,,,,, masa lalu mu yang bisa berbagi tawa dan cerita dengan mu, yang selalu memberikan kesan indah di dalam tiap lembaran hidup mu.

Aku iri, iri adalah tanda tak mampu, dan memang aku iri karena aku tak bisa memberikan apa yang telah masa lalu mu berikan, aku tidak bisa menjadi orang yang dekat dengan diri mu, aku tidak bisa menjadi orang yang selalu ada di sisi mu, aku tidak bisa menjadi orang yang bisa mengerti tentang diri mu, aku tidak bisa memberikan tawa dan aku bukan orang yang kau percaya untuk berbagi cerita.

Aku iri dengan semua itu, mereka bisa berdekatan dengan dengan mu, melihat indahnya alam, indahnya terbenam cahaya di ufuk, indahnya kota bagai cawan yang terlihat dari pegunungan dengan udara dingin yang semakin memberikan kesujukkan dalam hati mu, indahnya keramaian dan gemerlapnya lampu-lampu kota dengan air mancur yang menari-nari, bahagaianya diri mu dengan canda dan tawa yang dapat mereka berikan, tenang ya hati mu saat kau percaya pada mereka untuk berbagi cerita, sungguh sangat bahagia dan berkesannya apa yang telah di berikan masa lalu untuk diri mu. Dan maaf a ku tidak bisa memberikan itu.

Semakin kudengar cerita-cerita bahagia mu di masa lalu yang tiada henti, terkadang semakin menusuk hati, bagai hujan jarum yang terus menusuk diri ini tiada henti. Ingin ku terikan cukup sudah berhenti tak usah kau ceritan kan lagi….. tapi hati terasa semakin ingin tau, rasa penasaran menyala berkobar-kobar yang malah membakar diri ini, yang membuatku semakin tak berdaya terpaku dalam diam dibawah guyuran hujan jarum yang menusuk.

Betapa, betapa, betapa,

Betapa indah dan bahagianya cerita mu dengan dia1, dia2, dia3, dia4,,,,,,, banyak hal yang telah kau lakukan dengan masa lalu mu, yang selalu memberikan kesan dalam tiap lembar hidup mu yang mungkin tidak akan usang sampai matinya pohon beringin oleh usia, yang akan terus kau ceritakan pada anak dan cucu mu kelak.

Kemudian, Lalu, selanjutnya,,,,,,

Aku datang seseorang yang tak mempunyai apa-apa untuk diberikan, seseorang yang tak mengerti apa-apa dan tak bisa apa-apa ini. Seseorang yang hanya mempunyai berjuta rasa sayang dan cinta ini dan tak pernah berani untuk berharap karena tau akan kemampuan diri yang bukan apa-apa ini,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar