Senin, 22 Juni 2009
Trik Mendapatkan Hati Wanita untuk seorang CHICKEN
untuk seorang chicken wanita cantik mungkin hanya mimpi dan angan-angan, eissst tapi tunggu dulu, kita bisa buktikan pada dunia bahwa mereka bisa bertekuk lutu di hadapan kita
kita sebagai mungkin soorang yg mungkin di anggap tidak pantas mungkin bahkan kita sering direndahkan oleh mahluk yg selalu merasa paling cantik dan merasa kita tindak pantas untuk mereka, kita selalu dijadikan hanya sebagai budak, pesuruh, n bahan ledekan mereka yg dapat mereka gunakan kapan saja.
jahat dan kejamnya mereka seakan tak punya hati dan mengangap kita bukan manusia yg normal,
kita harus dapat taklukan wanita saperti itu dan buat mereka merasakan apa yg kita rasakan, pahitnya dihina dan dijelek-jelekan, di pandang sebelah mata, dan di angap menjijikan,
1. buat mereka kasian terhadap kita,
kita tidak bisa meluluhkan mereka dengan fisik tp kita harus mengunakan hati tanpa merasakan dengan hati, biarkan kita di jadikan objekkan, bahan untuk kesenangan mereka, walau sedikit menjatuhkan harga diri untuk mendapatkan harga diri wanita itu,. kita ikuti apa maunya mereka, walau kita tau dy akan menyakiti kita, kita pura2 ja g tau so lugu, biarkan dy menganggap telah meyakiti kita n mengahancurkan kita, pasang tampang sedih n melas tapi tegar, biarka mereka merasa iba terhadap kita
setelah meraka merasa iba n mulai dekat dengan kita, kita mulai sedikit memancing,
2, menjadi orang yg yaman untuk dy, karena dy tellah merasa iba terhadap kita,
COUNTINUE dulu ya. . . . . . . .
AKU IRI
Entah mengapa semakin ku dengar, semakin ku banyak tau dan aku semakin IRI.
Mungkin ini keEgoisan yang tak mendasar IRI pada sesuatu yang telah berlalu, iri dengan masa lalu.
Dulu kau bilang aku yang tak tak mempedulikan mu, ada dan tidak adanya dirimu tak akan berpengaruh apa-apa terhadap hidup ku, tapi nyatanya akulah yang tidak mempunyai kesan dalam hidup mu.
Sungguh sangat irinya hati ini mendengar cerita-cerita bahagia mu dengan orang lain, aku BENCI dengan ini.
Aku iri saat dia masa lalu mu yang “satu” bisa bisa lebih dekat dengan diri mu, Aku iri dengan “dua” masa lalu mu yang bisa berdekatan dengan mu, Aku iri dengan “tiga” masa lalu mu yang lebih bisa mengerti mu, Aku iri dengan “empat”, ”lima”, ”enam”,,,,,,,,,, masa lalu mu yang bisa berbagi tawa dan cerita dengan mu, yang selalu memberikan kesan indah di dalam tiap lembaran hidup mu.
Aku iri, iri adalah tanda tak mampu, dan memang aku iri karena aku tak bisa memberikan apa yang telah masa lalu mu berikan, aku tidak bisa menjadi orang yang dekat dengan diri mu, aku tidak bisa menjadi orang yang selalu ada di sisi mu, aku tidak bisa menjadi orang yang bisa mengerti tentang diri mu, aku tidak bisa memberikan tawa dan aku bukan orang yang kau percaya untuk berbagi cerita.
Aku iri dengan semua itu, mereka bisa berdekatan dengan dengan mu, melihat indahnya alam, indahnya terbenam cahaya di ufuk, indahnya kota bagai cawan yang terlihat dari pegunungan dengan udara dingin yang semakin memberikan kesujukkan dalam hati mu, indahnya keramaian dan gemerlapnya lampu-lampu kota dengan air mancur yang menari-nari, bahagaianya diri mu dengan canda dan tawa yang dapat mereka berikan, tenang ya hati mu saat kau percaya pada mereka untuk berbagi cerita, sungguh sangat bahagia dan berkesannya apa yang telah di berikan masa lalu untuk diri mu. Dan maaf a ku tidak bisa memberikan itu.
Semakin kudengar cerita-cerita bahagia mu di masa lalu yang tiada henti, terkadang semakin menusuk hati, bagai hujan jarum yang terus menusuk diri ini tiada henti. Ingin ku terikan cukup sudah berhenti tak usah kau ceritan kan lagi….. tapi hati terasa semakin ingin tau, rasa penasaran menyala berkobar-kobar yang malah membakar diri ini, yang membuatku semakin tak berdaya terpaku dalam diam dibawah guyuran hujan jarum yang menusuk.
Betapa, betapa, betapa,
Betapa indah dan bahagianya cerita mu dengan dia1, dia2, dia3, dia4,,,,,,, banyak hal yang telah kau lakukan dengan masa lalu mu, yang selalu memberikan kesan dalam tiap lembar hidup mu yang mungkin tidak akan usang sampai matinya pohon beringin oleh usia, yang akan terus kau ceritakan pada anak dan cucu mu kelak.
Kemudian, Lalu, selanjutnya,,,,,,
